Gallery

Showing posts with label DAERAH. Show all posts
Showing posts with label DAERAH. Show all posts

Sunday, 26 March 2017

Bupati buka festival ogoh-ogoh terbesar di Lampung

Ilustrasi: Penari Wanita dan Ogoh-Ogoh

Bandarlampung,Minggu (25/03/2017) - Bupati Lampung Tengah Mustafa membuka festival ogoh-ogoh yang merupakan festival ogoh-ogoh terbesar di Lampung, Minggu, dengan diikuti 28 ogoh-ogoh yang diparadekan dalam ajang tahunan tersebut. 

Bupati dalam keterangan diterima di Bandarlampung, menyatakan bangga karena ogoh-ogoh telah menjadi bagian dari kekayaan budaya di Lampung Tengah. Ia juga bangga karena jumlah peserta dari tahun ke tahun terus meningkat.

"Tahun lalu hanya diikuti 22 ogoh-ogoh, tahun ini naik menjadi 28 ogoh-ogoh dan menjadi festival terbesar di Lampung. Saya apresiasi sekali dan siap mendukung segala upaya pelestarian adat istiadat serta budaya di Lampung Tengah," kata Mustafa.

Dia menambahkan, festival ogoh-ogoh merupakan rangkaian kedua dari sebelumnya acara Melasati di Kecamatan Seputihbanyak. Pihaknya berjanji akan terus menjaga seluruh kekayaan budaya di Lampung Tengah tanpa melihat latar belakang suku dan wilayahnya.

Sebagai bentuk apresiasi kepada para tokoh agama, tahun ini Pemkab Lampung Tengah akan mengirimkan beberapa tokoh agama untuk lawatan ke beberapa negara pusat keagamaan sesuai agama masing-masing. Untuk umat Hindu, Mustafa akan mengirimkan 10 orang melakukan perjalanan rohani ke India.

Sementara itu, Raja Sekala Berak Edward Syah Pernong yang hadir dalam acara tersebut menuturkan, festival ogoh-ogoh bukan hanya milik masyarakat Bali, tetapi juga menjadi milik masyarakat Lampung Tengah. Membaurnya warga dari berbagai etnis dan suku menjadi bukti kerukunan umat beragama di Lampung Tengah sudah berjalan baik.

"Kekompakan ini harus diapresiasi. Festival ogoh-ogoh adalah ekspresi syukur sekaligus kesiapan umat Hindu menyambut tahun baru Sakha. Festival ini juga simbol instropeksi diri. Menghilangkan Keangkaraan murka, dan masyarakat Bali di Lampung Tengah pandai membaca diri, melakukan langkah-langkah yang mengarah kebaikan," kata dia.

Melalui parade ogoh-ogoh, dia berharap akan membentuk masyarakat yang lebih baik, yang guyup dan santun. "Sepakat dengan Bupati Mustafa, kebudayaan yang kita miliki harus dilestarikan. Saya mengapresiasi festival ogoh-ogoh ini, semoga menjadi akar budaya yang terus lestari sampai anak cucu kita," katanya.

Berdasarkan informasi yang berhasil dihimpun, parade ogoh-ogoh diikuti oleh 14 kelompok dimana masing-masing kelompok mengirimkan dua ogoh-ogoh dan selanjutnya diarak keliling di jalan-jalan untuk kemudian dibakar.

Parade ogoh-ogoh merupakan rangkaian kegiatan menyambut Hari Raya Nyepi yang jatuh Selasa (28/3). Sebelumnya digelar acara Melasati yang berlangsung di Danau Tirta Gangga kecamatan Seputihbanyak. Acara tersebut diikuti ribuan umat Hindu di Lampung Tengah yang bertujuan sebagai penyucian diri.(Red)


Sumber: antaranews.com

Tuesday, 4 October 2016

MUI: Dimas Kanjeng Bukan Kiai dan Pengikutnya Bukan Santri

KH. Abdussomad Buchari


JAKARTA -- Majelis Ulama Indonesia (MUI) Jawa Timur meminta media jangan membuat informasi yang membingungkan masyarakat terkait pemberitaan Padepokan Dimas Kanjeng Taat Pribadi. Informasi yang salah oleh media itu, menurut kiai Abdus Shomad, yaitu menyebut Dimas Kanjeng sebagai kiai dan pengikutnya adalah santri.

"Hasil investigasi MUI Jatim, padepokan ini bukanlah pondok pesantren. Dimas Kanjeng itu bukan Kiai dan pengikutnya juga bukan santri," kata Ketua MUI Jawa Timur, KH. Abdus Shomad Buchori kepada Republika.co.id di Jakarta, Selasa (4/10).
Menurutnya, kesalahan informasi ini karena media sudah terlanjur menyebut pengikutnya santri. Jadi seolah-olah Dimas Kanjeng itu kiai. Padahal, kata dia, mereka bukan santri dan Dimas Kanjeng bukan kiai.

Menurut kiai Abdus Shomad, jika media menyebut Dimas Kanjeng itu kiai dan pengikutnya sebagai santri, jelas menjatuhkan nama pesantren. "Jadi saya sudah berkali-kali menyampaikan, tolong jangan sebut santri, cukup pengikut," ujarnya.

Dalam pandangan kiai Abdus Ahomad, ada beberapa media yang menyebut barak-barak pengikutnya di sana sebagai santri. Ini yang MUI Jatim keluhkan. ''Santri itu menuntut ilmu, ada kajian ilmu dan apa yang dibaca, juga ada figur kiai,'' jelasnya
Tapi Dimas Kanjeng ini bukan kiai, dan pengikutnya juga tidak diberikan kajian ilmu. Ada istighotsah, tapi istighotsah tidak lazim diadakan, yakni dengan doktrin khusus yang diterbitkan dengan wirid-wirid secara khusus. Dan itu banyak dan menyimpang. "Itu wirid-wiridnya yang, wah kalau kita kaji, banyak yang bertentangan," katanya.(Red)

Tuesday, 27 September 2016

Dulu Siswa Lebih Takut Guru dibanding Polisi dan Tentara, Sekarang ?

Gambar Prof. Halide Pengamat Pendidikan Sul-Sel


Makassar --- Institusi pendidikan yang seharusnya menjadi tempat mulia, akhir-akhir ini malah mencerminkan hal yang tidak wajar atas beberapa kasus kekerasan yang melilit lingkungan intelektual tersebut. 

Prof. Halide Salah satu kasus yang masih hangat di ingatan kita adalah pemukulan yang melibatkan salah seorang tenaga pendidik di Makassar, Dasrul bersama siswanya MAS yang akhirnya bergulir ke jalur hukum. 

Kasus yang berhasil menyita perhatian publik tersebut bermula saat MAS tidak memenuhi tugas yang diberikan Dasrul, dan malah membuat onar terhadap teman-teman di kelasnya. Hal tersebut menarik perhatian Dasrul dengan menampar MAS sebagai bentuk teguran. Merasa tidak terima atas perlakuan gurunya, MAS kemudian melaporkan tindakan Dasrul ke ayahnya, Achmad Adnan. Adnan yang merasa geram perlakuan Dasrul akhirnya memukul bagian hidung Dasrul, mengakibatkan tulang hidungnya bergeser dan harus dioperasi. 

Menanggapi potret kekerasan yang terjadi pada institusi pendidikan tersebut, Prof Halide selaku pemerhati pendidikan di Sulawesi Selatan (Sulsel) sangat menyayangkan perlakuan orang tua siswa terhadap guru. “Kita sebagai murid kalau salah mengaku salah, saya sangat tidak setuju atas tindakan orang tua siswa yang memukul guru,” tegas Prof Halide  Senin (29/8/2016). 

Prof Halide menambahkan, proses pendidikan pada zaman sekarang sangat berbeda dibandingkan dulu ketika dirinya masih mengenyam dunia pendidikan. “Kalau orang tua saya dulu, ketika saya bikin kesalahan ancamannya itu selalu begini ‘saya lapor gurumu kalau kau nakal’. Jadi dulu itu, kita bukan polisi atau tentara yang ditakuti, melainkan guru. Karena guru menghukum untuk kebaikan,” ujarnya. 

Selanjutnya, Prof Halide menceritakan pengalamannya saat harus menerima hukuman guru akibat kesalahan yang ia buat. “Saya itu dua kali ditempeleng sama guru. Pertama, pada 1949 saya kebetulan ke sekolah dan menemukan granat. Karena tidak tahu apa granat itu, saya pun ambil dan mainkan. Begitu dilihat kepala sekolah (guru) saya, ia langsung tempeleng saya,” bebernya. Prof Halide menuturkan, setelah menamparnya memarahinya secara keras. 

“Tahu apa jadinya granat itu kalau dibuang (dilemparkan), berapa orang bisa meninggal dunia,” kenangnya. Sementara, tamparan kedua yang dialaminya sewaktu masih kelas 4 SD. “Dulu selalu apel pagi. Pada saat apel, saya banyak ribut (onar), dan salah seorang guru saya langsung menempeleng saya. Saya tidak marah karena itu adalah hukuman dari tindakan (bersalah) saya,” tutup Prof Halide. (RED)

Sumber : (http://makassarterkini.com) .

Wednesday, 21 September 2016

Smart City ala Kota Tangerang Diadopsi oleh 17 Daerah

Gambar Ruangan Pusat Kontrol Tangerang Live


Sebanyak 17 daerah kota dan kabupaten di Indonesia akan mengadopsi konsep Smart City Kota Tangerang, khususnya aplikasi pelayanan publik berbasis web dan Android untuk pelayanan masyarakat. Adopsi tersebut secara bersama-sama melalui penandatanganan Memorandum of Understanding (MoU) Tangerang Smart City Partnership di ruang Akhlakul Kharimah, Lantai 5, Pusat Pemerintah Kota Tangerang, Selasa (20/9/2016). 

Daerah yang mengikuti Smart City Partnership, diantaranya di kawasan Provinsi Banten seperti Kabupaten Tangerang, Kota Tangsel, Kota Serang, Kota Cilegon, Kabupaten Lebak dan Kabupaten Pandeglang. Selain itu ada juga Kota Makasar, Kota Batam, Kota Banteng, Kabupaten Jepara dan Kabupaten Bangka Selatan. 

Walikota Tangerang Arief R Wismansyah mengatakan, dengan kerja sama tersebut, ke 17 pemerintah daerah akan menggunakan aplikasi yang sudah digunakan Pemerintah Kota Tangerang secara gratis. Aplikasi tersebut dapat digunakan dalam peningkatan pelayanan publik atau memanage kinerja internal pegawai. 

“Kita juga akan melakukan pendampingan daerah yang mau pakai aplikasi kita dan jika aplikasinya dirasa masih kurang, bisa saling melakukan perbaikan, sehingga bisa update sama-sama,” ucap Arief. Selain itu, Kota Tangerang juga nantinya dapat belajar aplikasi dan program dari daerah lain. Contohnya, kota Malang dan Makasar yang memiliki konsep kota kreatif, itu juga akan diadopsi Kota Tangerang. “Dari pada daerah membangun dari nol, lebih baik tinggal pakai langsung aplikasi yang sudah ada,” terang Arief. 

Arief menambahkan, saat ini Kota Tangerang memiliki 158 aplikasi, seperti aplikasi Tangerang Live yang menggabungkan berbagai aplikasi yang sudah ada seperti Layanan Aspirasi Kotak Saran Anda (LAKSA), Pencaker (Pencari Kerja), daftar harga bahan pokok di pasar dan juga kumpulan berita tentang Kota Tangerang. “Kita selalu membuat aplikasi tiap dua minggu sekali dan menyempurnakan aplikasi yang sudah ada supaya dapat lebih mempermudah kinerja, terutama dalam pelayanan publik,” jelasnya. 

Sementara itu, Bupati Pandeglang Irna Narulita mengaku sangat membutuhkan aplikasi tersebut dalam mendekatkan dan mempercepat pelayanan, mengingat proses birokrasi di daerahnya masih terlalu panjang. “Saya berharap Pandeglang juga bisa lebih maju dan menjadi mart city,” tutupnya singkat. (Red)


Thursday, 15 September 2016

11 Oknum TNI Sindikat Calo Akmil Dibongkar , Sogokkan 15 M Diamankan

Panglima kodam (Pangdam)VII Wirabuana Mayjen
Agus Surya Bakti                                                               


MAKASSAR -- Panglima Kodam (Pangdam) VII Wirabuana Mayjen Agus Surya Bakti menegaskan 11 oknum anggota TNI telah menjalani proses hukum terkait sogokan saat penerimaan prajurit di tubuh TNI.

"Ada 11 orang masih menjalani proses hukum, empat oknum direkomendasikan ke tingkat Mahkamah Militer terkait pidana umum, sementara tujuh lainnya disanksi hukuman disiplin termasuk penundaan pangkat," kata Agus kepada wartawan di Balai Pertemuan Kodam VII Wirabuana, Makassar, Sulawesi Selatan, Rabu (14/9).

Dia menyebutkan, beberapa anggota yang terlibat diketahui berpangkat perwira menengah dan selebihnya anggota. Meski demikian, pihaknya tidak ingin persoalan ini tidak tuntas dan harus diselesaikan mengingat konsekuesi prajurit TNI siap menerima risiko ketika bersalah.

Sedangkan barang bukti uang yang diduga sebagai uang sogok tersebut telah diamankan dengan jumlah Rp 1,5 miliar.

Mengenai jumlah perwira menengah (pamen), perwira pertama (pama), bintara, tamtama, dan PNS yang diduga terlibat, masih penyelidikan internal, dan tidak diekspose terbuka. Dari 11 anggota tersebut, kata Agus, mereka memberikan sogokan kepada sindikat percaloan penerimaan prajurit TNI sehingga diusulkan akan dipecat karena sama-sama terlibat.

Kendati Agus enggan membeberkan nama-nama oknumnya, tetapi pihaknya telah mengajukan mereka ke polisi agar diproses. "Penyogok maupun disogok sama-sama kena, semuanya kita proses dan didorong ke polisi termasuk di serahkan ke Mahkamah Militer sesuai dengan pelanggarannya, biarkan penegak hukum menentukan sanksinya," ucap Suami Bella Saphira tersebut.

Berdasarkan penyidikan selama sembilan bulan, kata dia, terbongkar adanya sindikat percaloan bahkan dilakukan pada oknum penerima sogokan.

Meski 11 taruna Akademi Militer (Akmil) itu sudah dilantik, lanjut Agus, tetap diusulkan kepada Kepala Staf Angkatan Darat (KSAD) Jenderal Mulyono untuk diberikan sanksi maksimal pemecatan.

Mantan deputi Badan Nasional Penanggulangan Terorisme (BNPT) itu menerangkan, pada kasus sogok menyogok, pemberi maupun penerima sama-sama melanggar aturan dan keduanya tetap dikenakan pidana sesuai dengan Undang-undang yang berlaku. Tetapi, Agus tidak menerangkan secara rinci kapan laporan itu akan dimasukkan. (Red)

Source: Antara